Langsung ke konten utama

Postingan

MEMOAR : SEPOTONG MENDOAN CINTA DARI EMAK

“Ya ampun, yang bener aja Pur, mosok potongan mendoannya kecil-kecil banget kayak gini sih!” Seketika berondongan komentar pedas dari Emak meluncur deras tanpa bisa kujeda sedikit pun. Emak tampak gusar setelah melihat hasil tempe mendoan yang baru saja kuangkat dari penggorengan tampilannya tak sesuai dengan ekspektasinya. “Aduuuh, apa kata Edy nanti kalo lihat tempe hasil gorenganmu ukurannya macam ini. Kayak orang susah aja sih kita, menjamu tamu jauh kok sembarangan kayak gini. Sudah deh nanti ayamnya Emak aja yang potong!” Duh, rasanya panas hatiku mendengar omelan Emak tadi. Tapi, meskipun kesal hati, tetap kembali kulanjutkan menggoreng racikan tempe berbalur tepung yang masih tersisa di dalam mangkok adonan mendoan di hadapanku. “Ish, kejadian lagi deh yang kayak gini ... “ sungutku dalam hati. Meskipun dongkol, sebenarnya di dalam hati aku sedikit menyesal juga, kenapa tadi tidak mendengarkan baik-baik pesan Emak saat memintaku menyiapkan potongan tempe yang pantas untuk dijadik…
Postingan terbaru

CERPEN : CINCIN BERLIAN DARI SYURGA

“Kau harus segera menyampaikan keputusan keluarga ini kepada Arul. Segera, Ranti. Jika ikatan kalian ini tetap ingin dilanjutkan.” Deg! Ucapan Pak Purwo barusan benar-benar mengejutkan Ranti.  Ayahnya belum pernah seperti ini sebelumnya. Pak Purwo adalah seorang lelaki yang demokratis, bijaksana, meski terkenal tegas dan amat menjaga prinsip bila itu berkaitan dengan kebenaran. Namun ketegasannya selama ini selalu disampaikan dengan lembut. Kecuali hari ini. Kata-kata lelaki paruh baya yang masih tampak gagah ini terdengar tajam, menekan, menusuk tepat ke hati. Bagi Ranti, ini menjadi pertanyaan besar di kepalanya. “Kenapa tiba-tiba Ayah mengubah keputusan yang sudah kita sepakati? Tidak bisa seperti ini Ayah ... ” tanya gadis ini dengan nada putus asa. “Ayah mohon Ranti, mintalah pengertian Arul. Ini bukan tentang Ayah yang tidak mau menerima Arul apa adanya. Ayah sangat ikhlas melepasmu menjadi istrinya. Ayah hanya minta sedikit pengertiannya. Dalam masalah ini saja. Ini tentang nam…

CERPEN : MUMUN ENGGAK PERNAH SALAH

Hari masih pagi. Nggak kayak biasanya, Bang Jali tetumbenan udah bangun. Matanya kelihatan banget masih kriyep-kriyep menahan rasa kantuk yang tersisa. Sesekali mulutnya yang dihiasi kumis melintang menguap lebar disertai suara "huwaaah" yang lumayan keras.

"Apaan sih Bang, masih nguap bae!"

Tetiba mata Bang Jali langsung melotot. Suara hardikan Mpok Mumun, istri kesayangannya sukses menghilangkan kantuk berat yang ngganjel di matanya.

"Eeeh ... si montok udah siap. Neng Mumun jadi mau ke pasar nih?" Bang Jali cepat-cepat memasang muka manis di depan istrinya.

"Lah, ya jadi dong Bang. Pan Mumun dah keabisan lipensetip inih. Boros bener sih. Gegara Abang inih," sambil manyunin bibirnya yang tebal nggak beraturan, Mpok Mumun menjawab pertanyaan suaminya itu dengan ketus. Bang Jali senyum-senyum sendiri mendengar ocehan perempuan kesayangannya itu. Imajinasinya langsung melayang ke mana-mana. 

"Ayo deh Bang, berangkat!"

Sial. Hayalan tingkat ti…

Cerpen : SAJADAH CINTA

Menginginkanmu, Bagaikan tidak ada lagi hal lain di dunia ini yang ku inginkan Mendambamu, Mengalihkan pandangku dari beragam warna-warni keindahan dunia di hadapan Mengharapkanmu, Hatiku tak lagi inginkan yang lain, tak lagi ada .... Namun mengapa saat ku akhirnya harus menerimamu, Mengapa logika yang tadinya bak hilang lenyap tak terlihat Justru kini mengarahkanku untuk mengulang, membuat pertimbangan tuk memperhitungkanmu?
Perkenalan kita, telah dimulai sejak aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tingkat tinggi di kampus ini. Ya, sosok gagah dengan senyum bijak yang selalu meghiasi bibirmu, sering kali melintas di hadapan. Bagaimana tidak? Kau adalah salah satu dosen yang bertugas menyampaikan materi perkuliahan di kelasku sejak awal semester.
Pertemuan demi pertemuan yang terjadi selang beberapa waktu kemudian, kurasa tidak ada yang istimewa. Beberapa semester kau mengampu mata kuliah di kelasku, hubungan yang terjalin adalah bentuk ikatan normal antara pengajar dan mahasiswa. Tidak k…

Cerbung : KERAK TELOR SPESIAL (Bag. 3)

Setelah memarkir Vespanya di teras Sobari langsung berlari masuk rumah. Dipanggilnya ibunya bahkan tanpa sempat mengucap salam. "Mak! Mak dimana? nih pesenan kerak telornya. Maaaak!" Tak lama terdengar sahutan keras dari dalam kamar. "Heh Sobari! Ngapain sih lo pake teriak-teriak? Berisik tau, Emak baru beres Isya inih," tergopoh-gopoh emak Sobari keluar dari kamar dengan masih mengenakan mukenanya. Wajah wanita paruh baya itu tampak sedikit gusar. Sobari cuma bisa cengar-cengir menahan malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak terasa gatal. "Iye Mak, maapin dah. Ini pesenannya. Buruan dah Emak cicipin." "Ntar!" tukas emaknya cepat sambil bersiap kembali masuk ke kamar. Melihat emaknya balik arah, Sobari buru-buru menangkap tangan emaknya dan menahannya masuk kamar. "Mak, ngapain masup kamar lagih? Ayo dah Mak cobain kerak telornya. Ntar keburu dingin, enggak enak deh," rayu Sobari sambil senyum manis. Emak Sobari mencium ada gelagat an…